“Istriku ingin berlibur ke Jogja. Keluargaku juga ingin pergi ke Jogja, dan tentu saja aku lebih memilih mengajak keluargaku

“Istriku ingin berlibur ke Jogja. Keluargaku juga ingin pergi ke Jogja, dan tentu saja aku lebih memilih mengajak keluargaku tanpa memberitahu istriku karena ibuku tidak suka jika istriku ikut.
Pintu kamar Kayna tertutup pelan di depan wajah Haidar.

Untuk beberapa detik, lelaki itu hanya berdiri terpaku di lorong rumah. Suara langkah Rindu menghilang di balik pintu, tetapi kalimat istrinya masih terdengar jelas di kepalanya.

Gaji Abang sekarang lima puluh juta sebulan, kan?

Haidar menelan ludah.

Ia tidak pernah membayangkan Rindu akan menemukan dokumen itu.

Selama ini ia merasa semuanya baik-baik saja. Uang tujuh juta yang diberikannya setiap bulan menurutnya cukup untuk kebutuhan rumah, uang sekolah Kayna, belanja dapur, dan keperluan Rindu.

Setidaknya, itulah alasan yang selalu ia gunakan untuk menenangkan dirinya sendiri.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Haidar berdiri di tengah rumah dan memperhatikan sekeliling.

Sofa yang sudah enam tahun belum diganti.

Kulkas yang beberapa kali rusak tetapi selalu diperbaiki Rindu karena katanya membeli baru terlalu mahal.

Tas kerja Rindu yang kulitnya mulai mengelupas.

Bahkan sandal istrinya di dekat pintu sudah tipis di bagian tumit.

Sementara dirinya baru saja menghabiskan puluhan juta rupiah untuk membawa keluarga besarnya ke Jogja.

Dan membeli mobil yang bahkan belum pernah dinaiki istri serta anaknya.

Haidar mengusap wajah.

Entah kenapa, rumah itu mendadak terasa sangat sunyi.

Pagi harinya, Haidar terbangun di sofa ruang tamu.

Aroma masakan tidak tercium seperti biasanya.

Tidak ada suara Rindu menyiapkan sarapan.

Tidak ada secangkir kopi di meja.

Haidar bangkit dan melihat Kayna sudah mengenakan seragam sekolah.

Anak perempuan berusia sebelas tahun itu sedang memasukkan kotak makan ke dalam tas.

“Kayna.”

Kayna menoleh sebentar.

“Papa pulang?”

Pertanyaan itu terdengar datar.

Haidar tersenyum kaku.

“Iya. Papa baru pulang semalam.”

Kayna mengangguk.

Lalu kembali mengurus tasnya.

Biasanya Kayna akan berlari memeluknya setiap kali ia pulang setelah bepergian.

Namun pagi itu anaknya bahkan tidak mendekat.

“Kamu nggak kangen Papa?”

Kayna terdiam.

Kemudian ia menatap ayahnya.

“Aku lihat foto Papa di Jogja.”

Jantung Haidar seolah berhenti.

Kayna melanjutkan dengan suara pelan.

“Katanya Papa dinas.”

Haidar membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

“Mama bilang jangan marah sama Papa.”

Kayna menunduk.

“Tapi aku kecewa.”

Satu kalimat sederhana itu justru terasa jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan Rindu.

“Aku kan pernah bilang pengin lihat Malioboro.”

Mata Kayna mulai berkaca-kaca.

“Aku juga sudah nabung dari uang ulang tahunku karena Mama bilang mungkin tahun depan kita bisa pergi kalau uangnya cukup.”

Haidar merasa dadanya sesak.

Anaknya menabung untuk pergi ke Jogja.

Sementara dirinya menghabiskan uang puluhan juta untuk mengajak orang lain ke sana.

“Kayna, Papa bisa jelasin.”

“Nggak usah.”

Rindu muncul dari kamar dengan pakaian kerja sederhana.

Wajahnya masih pucat, tetapi ekspresinya sudah jauh lebih tenang.

Justru ketenangan itu membuat Haidar semakin takut.

“Ayo, Nak.”

Rindu menggandeng Kayna.

“Aku antar sekolah.”

Haidar segera berdiri.

“Biar aku yang antar.”

Rindu menoleh.

“Pakai apa?”

Pertanyaan itu membuat Haidar terdiam.

Rindu tersenyum tipis.

“Mobil baru Abang masih di rumah Ibu, kan?”

Haidar membeku.

Rindu ternyata tahu semuanya.

Tanpa menunggu jawaban, Rindu membawa Kayna keluar.

Hari-hari berikutnya terasa seperti hukuman yang tidak pernah dibayangkan Haidar.

Rindu tidak marah.

Tidak membentak.

Tidak bertanya.

Ia hanya berhenti melakukan semua hal yang selama ini dianggap Haidar sebagai sesuatu yang biasa.

Rindu tidak lagi menyiapkan pakaiannya.

Tidak lagi mengingatkan jadwalnya.

Tidak lagi menunggu Haidar pulang.

Bahkan ketika Haidar mencoba mengajak bicara, jawabannya selalu singkat.

“Iya.”

“Nggak.”

“Terserah Abang.”

Pada hari keempat, Haidar tidak tahan lagi.

Malam itu ia berdiri di depan kamar Kayna ketika Rindu hendak masuk.

“Kita harus bicara.”

Rindu menatapnya.

“Aku capek.”

“Aku juga capek begini, Dek.”

Rindu tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya Haidar melihat kemarahan muncul di matanya.

“Abang capek?”

“Bukan begitu maksudku.”

“Baru empat hari aku berhenti melayani Abang, dan Abang sudah capek?”

Haidar terdiam.

Rindu menatap suaminya lama.

“Aku menjalani ini bertahun-tahun, Bang.”

“Apa?”

“Berusaha jadi istri yang nggak merepotkan.”

Suara Rindu mulai bergetar.

“Aku nggak pernah minta tas mahal. Nggak pernah minta perhiasan. Bahkan ketika teman-temanku liburan, aku selalu bilang ke Kayna bahwa kita harus memahami kondisi Papa.”

Air mata memenuhi matanya.

“Padahal ternyata kondisi Papa sangat baik.”

“Dek, uang itu bukan aku habiskan sendiri.”

“Aku tahu.”

Rindu mengangguk.

“Abang habiskan untuk keluarga Abang.”

Haidar langsung terdiam.

“Setiap bulan berapa?”

“Apa?”

“Berapa uang yang Abang kasih ke Ibu?”

Haidar menghindari tatapan istrinya.

“Lima belas juta.”

Rindu tersenyum pahit.

“Tujuh juta untuk istri dan anak. Lima belas juta untuk Ibu.”

“Ibu banyak kebutuhan.”

“Aku nggak pernah melarang Abang berbakti.”

Suara Rindu meninggi.

“Yang aku pertanyakan, kenapa kami harus diperlakukan seperti orang asing?”

Haidar menghela napas.

“Ibu memang nggak nyaman kalau kamu ikut.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Begitu menyadarinya, Haidar langsung menyesal.

Wajah Rindu berubah.

“Jadi benar.”

“Dek.”

“Abang sengaja meninggalkan aku dan Kayna karena Ibu nggak suka aku ikut?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Haidar tidak bisa menjawab.

Rindu mengusap air matanya.

“Belasan tahun aku dihina keluarga Abang. Aku diam karena selama ini aku pikir setidaknya suamiku berdiri di sampingku.”

Ia menatap Haidar lurus-lurus.

“Ternyata aku salah.”

Rindu masuk ke kamar dan menutup pintu.

Malam itu Haidar tidak tidur.

Keesokan harinya ia mendatangi rumah ibunya.

Mobil barunya terparkir di halaman.

Anggita sedang duduk di teras bersama dua saudaranya.

“Kok pagi-pagi ke sini?” tanya Anggita.

“Aku mau ambil mobil.”

“Ya ambil saja.”

Haidar mengambil kunci.

Namun Anggita memperhatikan wajah anaknya.

“Kamu berantem sama Rindu?”

Haidar menghela napas.

“Dia tahu semuanya.”

Anggita mendengus.

“Terus kenapa? Memangnya kamu pakai uang dia?”

Kalimat itu membuat Haidar terdiam.

“Ibu.”

“Apa?”

“Itu uang keluargaku juga.”

Anggita memandang anaknya tidak senang.

“Sejak kapan kamu ngomong begitu sama Ibu?”

Haidar menggenggam kunci mobil erat-erat.

“Sejak aku sadar anakku menabung dari uang ulang tahunnya supaya bisa ke Jogja.”

Anggita terdiam.

“Sedangkan aku bawa puluhan orang ke sana.”

“Jangan lebay.”

“Ibu tahu Rindu sudah bertahun-tahun ingin pergi?”

“Ya terus kenapa? Kamu kan bisa bawa dia lain kali.”

Haidar tersenyum hambar.

“Ibu selalu bilang nanti.”

Ia menatap perempuan yang selama ini tidak pernah berani dibantahnya.

“Nanti ajak Rindu. Nanti bela Rindu. Nanti bahagiakan anakmu.”

Suaranya menjadi rendah.

“Ternyata aku terlalu banyak bilang nanti sampai hampir kehilangan mereka.”

Anggita berdiri.

“Kamu menyalahkan Ibu?”

“Aku menyalahkan diriku sendiri.”

Haidar menjawab tegas.

“Karena aku yang membiarkan Ibu menentukan bagaimana aku memperlakukan istriku.”

Untuk pertama kalinya sejak menikah, Haidar pergi meninggalkan rumah ibunya tanpa meminta persetujuan.

Namun ketika sampai di rumah, sesuatu menunggunya.

Dua koper berada di ruang tamu.

Haidar membeku.

Rindu sedang memasukkan beberapa dokumen ke dalam tas.

“Dek.”

Rindu menoleh.

“Aku dan Kayna pindah sementara.”

“Ke mana?”

“Rumah kakakku.”

Haidar langsung mendekat.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Aku sudah bicara sama Ibu.”

Rindu tersenyum lelah.

“Masalahnya bukan Ibu, Bang.”

Kalimat itu membuat Haidar terdiam.

“Masalahnya Abang.”

Rindu menarik napas.

“Kalau dari awal Abang bilang Ibu nggak mau aku ikut ke Jogja, mungkin aku marah. Tapi setidaknya aku tahu kenyataannya.”

Matanya memerah.

“Yang menghancurkan aku itu kebohongan Abang.”

Haidar menunduk.

“Aku salah.”

“Iya.”

“Aku mau berubah.”

“Aku harap begitu.”

Rindu menarik koper.

“Tapi aku nggak mau perubahan itu terjadi hanya karena Abang takut aku pergi.”

Haidar menahan pegangan koper tersebut.

“Aku sayang kamu.”

Rindu menatap tangannya lalu wajah suaminya.

“Kadang orang merasa sayang karena seseorang selalu ada.”

Ia menarik kembali koper itu.

“Tapi baru tahu betapa berharganya orang itu ketika dia berhenti melakukan semuanya.”

Kalimat itu menghantam Haidar tepat di dada.

Rindu dan Kayna akhirnya pergi.

Tiga minggu pertama menjadi masa terburuk bagi Haidar.

Ia mulai mengurus semuanya sendiri.

Belanja.

Mencuci.

Membayar tagihan.

Mengatur pekerjaan sambil memastikan kebutuhan Kayna tetap terpenuhi.

Barulah Haidar memahami bahwa tujuh juta yang selama ini diberikan kepada Rindu bukan uang pribadi istrinya.

Sebagian besar habis untuk sekolah Kayna, listrik, internet, belanja dapur, kebutuhan rumah, iuran lingkungan, dan berbagai pengeluaran kecil yang tidak pernah ia pikirkan.

Rindu bahkan sering menggunakan uang hasil pekerjaannya sendiri untuk menutupi kekurangan tanpa pernah meminta tambahan.

Haidar menemukan catatan keuangan lama Rindu di laci.

Setiap rupiah tercatat rapi.

Di salah satu halaman terdapat tulisan kecil.

Tabungan Jogja Kayna.

Saldo terakhir satu juta delapan ratus ribu rupiah.

Haidar duduk lama sambil memegang buku itu.

Untuk pertama kalinya ia menangis sendirian.

Bukan karena takut ditinggalkan.

Melainkan karena akhirnya ia memahami betapa banyak hal yang tidak pernah dilihatnya selama ini.

Dua bulan berlalu.

Haidar tidak memaksa Rindu pulang.

Ia hanya mengirim uang untuk Kayna, mengantar anaknya sekolah beberapa kali dalam seminggu, dan mulai mengikuti konseling pernikahan seorang diri.

Mobil barunya dijual.

Sebagian uangnya ia masukkan ke rekening pendidikan Kayna.

Sisanya ia gunakan melunasi cicilan rumah yang selama ini diam-diam menjadi beban Rindu karena beberapa kali Haidar terlambat mentransfer uang.

Suatu sore, Rindu menerima sebuah amplop dari Haidar.

Di dalamnya bukan tiket Jogja.

Bukan perhiasan.

Bukan pula surat permintaan maaf panjang.

Hanya salinan rekening keluarga baru atas nama mereka berdua, daftar seluruh pendapatan dan kewajiban Haidar, serta secarik kertas.

Aku tidak meminta kamu percaya lagi sekarang. Mulai hari ini, aku hanya berhenti menyembunyikan apa pun.

Seminggu kemudian, Haidar menjemput Kayna untuk makan siang.

Ketika hendak pulang, Kayna bertanya sesuatu yang membuatnya terkejut.

“Papa masih pengin Mama pulang?”

Haidar tersenyum sedih.

“Setiap hari.”

“Kenapa nggak suruh?”

“Karena rumah itu juga rumah Mama.”

Haidar mengusap kepala anaknya.

“Papa nggak punya hak menyuruh Mama kembali sebelum Mama merasa aman untuk pulang.”

Tanpa mereka sadari, Rindu berdiri di balik pintu.

Mendengar semuanya.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua bulan, Rindu mengirim pesan kepada Haidar.

Besok malam kita bicara.

Haidar membaca pesan itu berkali-kali.

Pertemuan mereka berlangsung sederhana.

Tidak ada tangisan dramatis.

Tidak ada pelukan.

Hanya dua orang yang akhirnya duduk sebagai pasangan dewasa dan membicarakan luka yang selama bertahun-tahun mereka kubur.

“Aku belum bisa kembali seperti dulu,” kata Rindu.

“Aku nggak minta kamu seperti dulu.”

Haidar mengangguk.

“Justru mungkin dulu yang salah.”

Rindu memandangnya.

Haidar melanjutkan.

“Aku terbiasa menganggap kesabaranmu sebagai izin untuk terus melakukan apa yang aku mau.”

Rindu menunduk.

“Aku juga salah karena terlalu lama diam.”

Mereka sepakat mencoba memperbaiki pernikahan.

Perlahan.

Tanpa janji berlebihan.

Beberapa bulan kemudian, pada libur sekolah Kayna, Haidar datang membawa sebuah map.

“Apa ini?” tanya Rindu.

“Tiket kereta.”

Rindu langsung diam.

“Jogja?”

Haidar mengangguk.

Namun sebelum Rindu berkata apa pun, lelaki itu menambahkan.

“Bukan aku yang bayar.”

Rindu mengernyit.

Kayna berlari dari kamar sambil membawa celengan kecilnya.

“Aku ikut bayar!”

Rindu menatap putrinya.

Kayna tersenyum lebar.

“Papa bilang perjalanan pertama kita harus dari uang keluarga kita sendiri.”

Rindu menatap Haidar.

“Berarti Abang tetap bayar paling banyak.”

Haidar tertawa kecil.

“Kayna bayar es krim.”

“Papa!”

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Rindu ikut tertawa.

Beberapa hari kemudian mereka bertiga berdiri di Malioboro.

Tidak ada rombongan besar.

Tidak ada mobil mewah.

Tidak ada keluarga yang ikut menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh hadir.

Hanya Haidar, Rindu, dan Kayna berjalan berdampingan di tengah keramaian.

Ketika Kayna meminta seorang wisatawan memotret mereka, Haidar berdiri di samping Rindu tetapi tidak langsung merangkulnya seperti dahulu.

Ia hanya berdiri dengan sopan.

Sampai tiba-tiba Rindu sendiri yang menggeser tubuh lebih dekat.

Bahu mereka bersentuhan.

Haidar menoleh.

Rindu tidak melihatnya.

Perempuan itu hanya menatap kamera sambil tersenyum kecil.

Klik.

Satu foto tercipta.

Foto yang kemudian disimpan Haidar sebagai foto paling berharga dalam hidupnya.

Bukan karena tempatnya.

Bukan karena liburannya.

Melainkan karena ia tahu, perempuan yang berdiri di sampingnya kali ini bukan lagi seorang istri yang bertahan karena terlalu sabar.

Rindu berada di sana karena memilih memberi Haidar satu kesempatan lagi.

Dan sejak hari itu, Haidar akhirnya memahami satu hal yang terlambat ia pelajari.

Menafkahi keluarga bukan hanya tentang memastikan mereka tidak kelaparan.

Mencintai istri bukan hanya tentang mengatakan bahwa ia adalah perempuan terpenting dalam hidup.

Karena seseorang hanya benar-benar menjadi prioritas ketika keputusan yang kita buat juga menunjukkan bahwa dirinya memang prioritas.

Dan kepercayaan yang pernah dihancurkan tidak bisa dibeli kembali dengan uang lima puluh juta rupiah, mobil baru, ataupun perjalanan ke Jogja.

Ia hanya bisa dibangun lagi melalui kejujuran yang dilakukan setiap hari.

Sedikit demi sedikit.

Sampai suatu malam, beberapa bulan setelah perjalanan itu, Haidar terbangun dan menemukan Rindu tertidur di sampingnya.

Bukan di kamar Kayna.

Bukan di rumah kakaknya.

Melainkan kembali di kamar mereka.

Haidar tidak berani menyentuhnya.

Ia hanya menatap wajah istrinya dalam cahaya redup, lalu memejamkan mata dengan dada yang terasa hangat.

Saat itulah ia sadar.

Ternyata kepulangan Rindu adalah perjalanan terpanjang yang pernah ditempuhnya.

Dan Jogja hanyalah tempat di mana perjalanan itu akhirnya dimulai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *